Blog

Harmony & Diversity

Di Malam Natal_17_140x180cm_acrylic on canvas2

Jenis ekspresi seni yang bersumber dari pengalaman serta pergumulan imani kristen mulai mendorong perupa Wisnu Sasongko terutama memaknai ingatan akan serangkaiaan peristiwa kerusuhan brutal-massif di tahun politik 1998 hingga 2000, yakni dekade pasca Reformasi. Jejak hitam penganiyayaan terhadap para penganut kristiani serta etnis Cina yang terjadi di Jawa juga Maluku, membangkitkan sentimen kepedihan mendalam akan rendahnya nilai kemanusiaan, toleransi, serta persaudaraan antar agama sebagai pedoman hidup berbangsa “Bineka Tunggal Ika” (Berbeda-beda namun tetap satu juga). Momentum pameran berdua perupa Wisnu Sasongko dengan L. Surajiya bertajuk “Hilangnya Cinta” pada tahun 2000 di Purna Budaya UGM menjadi petanda eksplorasi seni rupa kristiani dari pergumulan jamannya. Perupa Wisnu Sasongko berintensi membangkitkan tema “Harmony and Diversity” dalam program reset-residensi seni rupa pada lembaga OMSC pada tahun 2004-2005 di Amerika dan berlanjut mempresentasikan tema tersebut bersama ldengan embaga M21 pada tahun 2010 di Basel-Zurich Swiss. Pengalaman berpameran serta mempresentasikan seni kristiani dalam penghayatan Keindonesiaan semakin aktif baik di kancah nasional maupun internasional.

Belakangan perupa Wisnu Sasongko terus mengembangkan tema religi, sosial budaya, serta kemanusiaan lewat corak seni impresif-dekoratif dengan eksplorasi media yang bertujuan bermeditasi lewat bahasa seni rupa. Di kancah seni kontemporer yang kian menepikan nilai estetika, perupa Wisnu Sasongko tetap bertahan menjaga nilai keunikan serta kedalaman sebagai landasan eksposisi. Perupa justru beroleh inspirasi atas kebaruan jaman yang dilatarbelakangi dengan penggalian sejarah budaya lokal sebagai kekuatan ideologis bagi penciptaan karya-karya. “Seni rupa kini punya kecenderungan selalu menghadirkan guncangan serta decak kagum karena inovasinya, namun dampaknya cepat berlalu. di sinilah Perupa Wisnu Sasongko secara konsisten mempertahankan bentuk konvensional namun terus menggarap aspek narasi serta kedalaman renungan karya.

“Bukan lagi tentang kehebatan rancang skil maestro, seni tidak lain merupakan skil kelincahan mengorganisir elemen seni. Betapapun aku masih mengagumi para maetro seni rupa, semata bukan untuk menirunya namun mempelajari akan pencapaian keungulan-keungulannya. Aku bukanlah seorang realis atau naturalais yang berniat menghadirkan kembali akan peristiwa hidup atau alam, Aku lebih ingin memperdalam penghayatan naratif serta mengeskpose akan kesederhanaan”.  Wisnu Sasongko.

Periode Karya Tahun 2010-2013:

Iklan

Periode Karya Sasongkoarts

Penghayatan Kerohanian Lewat Seni

Jenis ekspresi seni yang bersumber dari pengalaman serta pergumulan imani kristen mulai mendorong perupa Wisnu Sasongko terutama memaknai serangkaiaan peristiwa kerusuhan brutal-massif di tahun politik 1998 hingga 2000, yakni dekade pasca Reformasi. Jejak hitam penganiyayaan terhadap para penganut kristiani serta etnis Cina yang terjadi di Jawa juga Maluku, membangkitkan sentimen kepedihan mendalam di mana menggambarkan rendahnya nilai kemanusiaan, toleransi, serta persaudaraan antar agama dalam pedoman hidup “Bineka Tunggal Ika” (Berbeda-beda namun tetap satu juga). Momentum pameran berdua dengan L. Surajiya bertajuk “Hilangnya Cinta” pada tahun 2000 di Purna Budaya UGM menjadi petanda mengawali eksplorasi seni rupa kristiani dalam menyikapi  jamannya. Perupa Wisnu Sasongko pun membangkitkan tema “Harmony and Diversity” dalam program reset residensi seni rupa pada lembaga OMSC pada tahun 2004-2005 di Amerika dan berlanjut mempresentasikan bersama lembaga M21 pada tahun 2010 di Basel-Zurich Swiss. Pengalaman berpameran serta mempresentasikan seni kristiani dalam penghayatan Keindonesiaan semakin aktif lagi baik nasional maupun internasional.

Belakangan perupa Wisnu Sasongko terus mengembangkan tema religi, sosial budaya, serta kemanusiaan lewat corak seni impresif-dekoratif dengan eksplorasi media yang bertujuan bermeditasi lewat bahasa seni rupa. Di kancah seni kontemporer yang menepikan nilai estetika, perupa bertahan menjaga nilai keunikan serta kedalaman sebagai landasan eksposisi. Perupa Wisnu Sasongko beroleh inspirasi atas kebaruan jaman serta akar sejarah budaya lokal menjadi kekuatan penggalian bagi penciptaan karya. “Seni rupa kini selalu menghadirkan guncangan serta menghadirkan decak kagum, namun mengapa cepat berlalu?

“Bukan lagi tentang kehebatan skil maestro, namun kelincahan mengorganisir elemen seni. Aku masih mengagumi para maetro seni rupa, semata bukan untuk meniru namun membaca akan pencapaian keungulan-keungulannya. Aku bukanlah penghadir kembali akan peristiwa-peristiwa hidup, namun lebih ingin memperdalam penghayatan serta mengeskpose akan kesederhanaan”.  Wisnu Sasongko.

Periode Karya Tahun 2008-2010:

Wisnuarts Gallery

Seni Religi Kontekstual

Menampilkan hasil karya seni lukis Wisnu Sasongko dari periode 2000-an dengan mengusung ragam eksplorasi tema, khususnya sosial-religi yang melatarbelakangi intensi perupa melakukan kegiatan seperti dialog-workshop-reset tentang perkembangan seni rupa kristiani di Indonesia.

Sejarah seni kristiani di Indonesia bermula dari jejak-jejak kolonialisme Belanda-Portugal di beberapa wilayah di Nusantara. Pengaruh modernisasi serta kekristenan ala Barat melatar belakangi petanda sejarah kekristenan, namun tak dapat disangkal pula di sanalah letak kesulitan tumbuhnya kekristenan di bumi Nusantara ketika kurangnya akulturasi atau pembauran budaya. Angin pembaharuan teologi kontekstual makin mendapat tempatnya di kalangan Katholik maupun Protestan, bukti artfisial dalam seni bangunan gereja-candi Ganjuran dan patung Yesus Raja gaya Hindu-Jawa di Bantul Yogyakarta menampilkan. Gereja susunan bebatuan ala punden berundak hindu di Puh Sarang Kediri Jawa Timur.

Ekspresi seni rupa kristiani di era modern pasca kemerdekaan RI mengarah pada pencarian bentuk-bentuk kontekstualisasi budaya lokal, seperti konsitensi seni lukis dan batik karya-karya Bagong Kusudihardja yang menampilkan penghayatan iman kristen melalui deformasi pewayangan dan formasi adat budaya Jawa. Sedangkan Nyoman Darsana menampilkan penggubahan sosok Kristus dalam gaya impresi pewayangan serta meleburkan kesaksian injil dalam formasi tradisi-suasana Bali. Demikian pun perupa Wisnu Sasongko mendapatkan sumber inspirasi dari pengalaman, penghayatan imani serta pergumulan hidup dalam suasana kontekstual budaya Jawa.

Jenis ekspresi seni yang bersumber dari pengalaman serta pergumulan imani kristen mulai mendorong perupa Wisnu Sasongko terutama memaknai serangkaiaan peristiwa kerusuhan brutal-massif di tahun politik 1998 hingga 2000, yakni dekade pasca Reformasi. Jejak hitam penganiyayaan terhadap para penganut kristiani serta etnis Cina yang terjadi di Jawa juga Maluku, membangkitkan sentimen kepedihan mendalam di mana menggambarkan rendahnya nilai kemanusiaan, toleransi, serta persaudaraan antar agama dalam pedoman hidup “Bineka Tunggal Ika” (Berbeda-beda namun tetap satu juga). Momentum pameran berdua dengan L. Surajiya bertajuk “Hilangnya Cinta” pada tahun 2000 di Purna Budaya UGM menjadi petanda mengawali eksplorasi seni rupa kristiani dalam menyikapi  jamannya. Perupa Wisnu Sasongko pun membangkitkan tema “Harmony and Diversity” dalam program reset residensi seni rupa pada lembaga OMSC pada tahun 2004-2005 di Amerika dan berlanjut mempresentasikan bersama lembaga M21 pada tahun 2010 di Basel-Zurich Swiss. Pengalaman berpameran serta mempresentasikan seni kristiani dalam penghayatan Keindonesiaan semakin aktif lagi baik nasional maupun internasional.

Belakangan perupa Wisnu Sasongko terus mengembangkan tema religi, sosial budaya, serta kemanusiaan lewat corak seni impresif-dekoratif dengan eksplorasi media yang bertujuan bermeditasi lewat bahasa seni rupa. Di kancah seni kontemporer yang menepikan nilai estetika, perupa bertahan menjaga nilai keunikan serta kedalaman sebagai landasan eksposisi. Perupa Wisnu Sasongko beroleh inspirasi atas kebaruan jaman serta akar sejarah budaya lokal menjadi kekuatan penggalian bagi penciptaan karya. “Seni rupa kini selalu menghadirkan guncangan serta menghadirkan decak kagum, namun mengapa cepat berlalu? Bukan lagi tentang kehebatan skil maestro, namun kelincahan mengorganisir elemen seni. Aku masih mengagumi para maetro seni rupa, semata bukan untuk meniru namun membaca akan pencapaian keungulan-keungulannya. Aku bukanlah penghadir kembali akan peristiwa-peristiwa hidup, namun lebih ingin memperdalam penghayatan serta mengeskpose akan kesederhanaan”.  Wisnu Sasongko.

Karya Periode 2001-2003:

 

 

Karya tahun 2004-2006:

Social Life

: Painting on Update

My paintings tells alot about social life, how people are getting in touch most as spiritual human to help one another. All causes is lack of love as human origin and because of He’s grace through faith we are able to shine out.

 

Artist Biography

WISNU SASONGKO S. Sn. M. Hum.

Address

Jl. Kelapa Gading Selatan, Sektor II A, Blog HA I No. 1. Gading Serpong- Tangerang. (15810)

FB/ email        : artefine25@gmail.com

HP/WA            : By email request

1975 Born in Jakarta
1995 Graduate from SMSRN Yogyakarta (Major Fine Art School)
1996-2001 Undergraduate in Fine Art Faculty of Indonesian Art Institute ISI Yogyakarta
2006-2010 Master graduate from Cultural Studies

:: Artistic Experiences

1999-2003, Participates, duet-solo in many local paintings show at Jogjakarta, Jakarta.

2004-2005, View solo painting exhibitions and invitation in Iowa, New Haven, Boston, Connecticut.

2006-2010, View participation in many local and international art exhibition in Jakarta, Singapore, New York.

2011-2005,  Participates in many local and international art show to raise peace and religious issue in Basel Swiss, Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Tangerang.

2006-2013, Participates and raise interreligious dialog, seminar, research and also painting exhibition in several city in Bandung, Yogyakarta, Jakarta, Tangerang.

2014-2018, Continue to participate to raise interreligious dialog, seminar, research and also painting exhibition in several city in Bali, Bandung, Yogyakarta, Jakarta, Tangerang.